Rabu, 27 Desember 2017

“Hoax” Jaman “Now”

Di era modern ini, teknologi berkembang sangat pesat seiring dengan keinginan manusia untuk memenuhi segala kebutuhannya. Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan untuk memenuhi segala kebutuhannya dengan mudah dan cepat. Hal ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah perubahan sistem sosial atau sistem interaksi sosial dalam masyarakat.
Perubahan interaksi sosial antar manusia dalam suatu masyarakat mulai bergeser. Sekarang interaksi tersebut sudah tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih memungkinkan masyarakat untuk berkomunikasi secara jarak jauh dan juga memperoleh informasi dengan cepat. Peristiwa semacam itu membentuk suatu fenomena masyarakat baru yang disebut masyarakat dunia maya, masyarakat jaman “now” atau lebih dikenal dengan istilah netizen.
Terbentuknya masyarakat dunia maya ini didukung oleh kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet dan perangkat telepon pintar (smartphone). Melalui internet berbasis smartphone, setiap orang bisa menyebarkan infromasi sekaligus menerima informasi dari banyak sumber baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal, apalagi sejak munculnya media sosial seperti facebook, twitter, whatsapp, dan sebagainya. Melalui media sosial tersebut transaksi informasi menjadi sangat tidak terbatas.
Dampak bebas dan tak terbatasnya informasi ini memuculkan masalah baru yaitu adanya berita bohong atau lebih dikenal dengan istilah “hoax”. Fenomena hoax pada beberapa waktu belakangan ini sungguh sangat meresahkan, karena dampaknya tidak hanya dirasakan di dunia maya tetapi juga berimbas pada pola kehidupan di masyarakat nyata.
Dampak negatif adanya hoax yang bisa dirasakan adalah munculnya fitnah yang berimbas pada rasa ketidak percayaan antara suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya atau bahkan masyarakat dengan institusi pemerintah. Hal ini jika dibiarkan berlarut-larut dapat mengakibatkan ketidak harmonisan hubungan antara masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan negara, dan bahkan lebih jauh bisa berakibat pada disintegrasi bangsa.
Fenomena hoax menjadi tantangan bagi para netizen untuk bisa memilih dan memilah informasi yang sahih agar tidak terjebak dalam ketakpastian informasi. Untuk itu apabila menerima informasi dari manapun terutama dari media sosial maupun media online maka perlu dilakukan klarifikasi terlebih dahulu. Langkah mengidentifikasi hoak diantaranya melalui langkah-langkah berikut:
1.   Pastikan sumber berita atau informasi berasal dari alamat situs terpercaya dan resmi. Misal ada informasi yang kita terima dari suatu blog atau sosial media maka perlu dilihat sumbernya, kemudian cari sumber utama informasi tersebut. Sebagai contoh tentang simpang siurnya informasi registrasi ulang kartu prabayar, maka sumber rujukan informasi yang dicari adalah situs  resmi kementerian komunikasi dan informatika. Jika informasi yang kita dapat sebelumnya bertentangan dengan informasi di laman resmi tersebut, maka dimungkinkan informasi tersebut merupakan hoax.
2.    Identifikasi judul berita. Apabila judul berita itu bersifat profokatif atau mengandung SARA maka perlu diwaspadai informasi yang ada di dalamnya terindikasi hoax atau bisa masuk ke dalam kategori ujaran kebencian. Menghadapi berita semacam ini perlu berhati-hati jangan sampai terbawa emosi kemudian terpancing untuk membut komentar yang tidak proporsional.
3.    Apabila informasi yang diterima berupa konten multimedia berisi gambar, suara, atau video maka perlu diteliti keasliannya sejauh kemampuan kita atau kalau dirasa perlu bisa meminta bantuan kepada ahlinya.
4.   Apabila informasi yang didapat menyangkut materi agama atau keyakinan, untuk mengetahui kebenarannya perlu merujuk pada kitab suci atau menanyakan pada ahli di bidangnya seperti ustadz, kyai, atau pemuka agama.
Setelah mengetahui dan meyakin bahwa informasi yang diterima merupakan berita hoax maka jangan ikut menyebarkan lagi informasi tersebut baik melalui laman jejaring sosial yang dimiliki maupun kepada masyarakat umum. Apabila memiliki kemampuan atau kompetensi untuk mengklarifikasi berita hal tersebut akan lebih baik, tentunya dengan mencantumkan data-data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak masuk ke ranah hoax lain atau penebaran ujaran kebencian.
Sebagai seorang guru, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya informasi atau berita hoax baru dibutuhkan beberapa hal, diantaranya:
1.    Menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa yaitu budaya untuk membaca, mengamati, dan mengelola informasi yang diterima. Budaya ini dapat diterapkan melalui pembiasaan siswa untuk mencari informasi tentang materi pelajaran maupun materi pengetahuan umum dengan merujuk pada buku-buku di perpustakaan. Produk yang dihasilkan diantaranya makalah, kliping atau sejenisnya. Selain buku di perpustakaan, siswa juga dapat mencari informasi melalui internet dengan terlebih dahulu diberikan daftar alamat web atau kriteria alamat web yang dikunjungi.
2.   Mengajarkan dan berusaha sikap ilmiah pada siswa melalui kegiatan pengamatan, interferensi data, dan membuat kesimpulan. Dengan metode seperti ini diharapkan siswa memiliki kebiasaan untuk membuat kesimpulan berdasarkan data-data yang sesuai dari hasil pengamatan dan interferensi. Selanjutnya diharapkan bisa memberikan efek kebiasaan jika menerima informasi mereka tidak langsung percaya tetapi dibuktikan melalui langkah-langkah metode ilmiah tersebut.
3.    Membentuk group media sosial atau jejaring sosial dengan melibatkan guru dan siswa. Melalui group ini guru bisa memantau, memberikan bimbingan, dan  arahan kepada siswa sehingga terbiasa mendapatkan informasi yang valid. Berdasarkan pengalaman, group semacam ini sangat berguna terutama setelah siswa menyelesaikan studi di madrasah. Biasanya ada kesimpang siuran informasi tentang pengambilan ijazah dan dokumen lain. Dengan adanya group ini, siswa yang telah purna masih bisa bekomunikasi dengan pihak sekolah melalui guru dalam group tesebut.
Melalui beberapa hal tersebut, guru sebagai pendidik diharapkan bisa menjadi pioner dalam gerakan anti hoax yang berimbas pada peserta didiknya. Peserta didik inilah nantinya yang akan berkembang menjadi masyarakat yang memiliki cenderung anti hoax dan anti penyebar hoax karena sejak dini sudah diajari dan dibiasakan bagaimana cara untuk memperoleh informasi yang sahih.

Kesimpulannya, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah sebuah keniscayaan dengan sisi untung dan ruginya. Sebagai pendidik, seorang guru harus bisa berperan mengarahkan anak didik “jaman now” ini tentang bagaimana cara memperoleh informasi yang benar dan tidak terjebak pada hoax. Kunci utama menghadapi informasi hoax adalah “tabayyun” atau klarifikasi informasi tersebut melalui sumber-sumber terpercaya dan melalui langkah-langkah ilmiah. Akhirnya masyarakat anti hoax akan terbentuk jika semua anggota masyarakat memiliki komitmen untuk selalu mengklarifikasi informasi yang diterima dan semua itu bisa diawali dari bangku sekolah.