Di era modern ini, teknologi
berkembang sangat pesat seiring dengan keinginan manusia untuk memenuhi segala
kebutuhannya. Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan untuk memenuhi segala
kebutuhannya dengan mudah dan cepat. Hal ini berdampak pada berbagai aspek
kehidupan, salah satunya adalah perubahan sistem sosial atau sistem interaksi
sosial dalam masyarakat.
Perubahan interaksi
sosial antar manusia dalam suatu masyarakat mulai bergeser. Sekarang interaksi
tersebut sudah tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu. Perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi yang semakin canggih memungkinkan masyarakat untuk
berkomunikasi secara jarak jauh dan juga memperoleh informasi dengan cepat.
Peristiwa semacam itu membentuk suatu fenomena masyarakat baru yang disebut masyarakat
dunia maya, masyarakat jaman “now” atau
lebih dikenal dengan istilah netizen.
Terbentuknya masyarakat
dunia maya ini didukung oleh kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi berbasis
internet dan perangkat telepon pintar (smartphone).
Melalui internet berbasis smartphone,
setiap orang bisa menyebarkan infromasi sekaligus menerima informasi dari
banyak sumber baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal, apalagi sejak
munculnya media sosial seperti facebook, twitter, whatsapp, dan sebagainya.
Melalui media sosial tersebut transaksi informasi menjadi sangat tidak
terbatas.
Dampak bebas dan tak
terbatasnya informasi ini memuculkan masalah baru yaitu adanya berita bohong
atau lebih dikenal dengan istilah “hoax”.
Fenomena hoax pada beberapa waktu
belakangan ini sungguh sangat meresahkan, karena dampaknya tidak hanya dirasakan
di dunia maya tetapi juga berimbas pada pola kehidupan di masyarakat nyata.
Dampak negatif adanya
hoax yang bisa dirasakan adalah munculnya fitnah yang berimbas pada rasa
ketidak percayaan antara suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat
lainnya atau bahkan masyarakat dengan institusi pemerintah. Hal ini jika
dibiarkan berlarut-larut dapat mengakibatkan ketidak harmonisan hubungan antara
masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan negara, dan bahkan lebih jauh
bisa berakibat pada disintegrasi bangsa.
Fenomena hoax menjadi
tantangan bagi para netizen untuk bisa memilih dan memilah informasi yang sahih
agar tidak terjebak dalam ketakpastian informasi. Untuk itu apabila menerima
informasi dari manapun terutama dari media sosial maupun media online maka
perlu dilakukan klarifikasi terlebih dahulu. Langkah mengidentifikasi hoak diantaranya
melalui langkah-langkah berikut:
1. Pastikan
sumber berita atau informasi berasal dari alamat situs terpercaya dan resmi.
Misal ada informasi yang kita terima dari suatu blog atau sosial media maka
perlu dilihat sumbernya, kemudian cari sumber utama informasi tersebut. Sebagai
contoh tentang simpang siurnya informasi registrasi ulang kartu prabayar, maka
sumber rujukan informasi yang dicari adalah situs resmi kementerian komunikasi dan informatika.
Jika informasi yang kita dapat sebelumnya bertentangan dengan informasi di
laman resmi tersebut, maka dimungkinkan informasi tersebut merupakan hoax.
2. Identifikasi
judul berita. Apabila judul berita itu bersifat profokatif atau mengandung SARA
maka perlu diwaspadai informasi yang ada di dalamnya terindikasi hoax atau bisa
masuk ke dalam kategori ujaran kebencian. Menghadapi berita semacam ini perlu
berhati-hati jangan sampai terbawa emosi kemudian terpancing untuk membut
komentar yang tidak proporsional.
3. Apabila
informasi yang diterima berupa konten multimedia berisi gambar, suara, atau
video maka perlu diteliti keasliannya sejauh kemampuan kita atau kalau dirasa
perlu bisa meminta bantuan kepada ahlinya.
4. Apabila
informasi yang didapat menyangkut materi agama atau keyakinan, untuk mengetahui
kebenarannya perlu merujuk pada kitab suci atau menanyakan pada ahli di
bidangnya seperti ustadz, kyai, atau pemuka agama.
Setelah mengetahui dan meyakin bahwa informasi
yang diterima merupakan berita hoax maka jangan ikut menyebarkan lagi informasi
tersebut baik melalui laman jejaring sosial yang dimiliki maupun kepada
masyarakat umum. Apabila memiliki kemampuan atau kompetensi untuk
mengklarifikasi berita hal tersebut akan lebih baik, tentunya dengan
mencantumkan data-data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak
masuk ke ranah hoax lain atau penebaran ujaran kebencian.
Sebagai seorang guru, ada
beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya informasi atau
berita hoax baru dibutuhkan beberapa hal, diantaranya:
1. Menumbuhkan
budaya literasi di kalangan siswa yaitu budaya untuk membaca, mengamati, dan mengelola
informasi yang diterima. Budaya ini dapat diterapkan melalui pembiasaan siswa
untuk mencari informasi tentang materi pelajaran maupun materi pengetahuan umum
dengan merujuk pada buku-buku di perpustakaan. Produk yang dihasilkan
diantaranya makalah, kliping atau sejenisnya. Selain buku di perpustakaan,
siswa juga dapat mencari informasi melalui internet dengan terlebih dahulu
diberikan daftar alamat web atau kriteria alamat web yang dikunjungi.
2. Mengajarkan
dan berusaha sikap ilmiah pada siswa melalui kegiatan pengamatan, interferensi
data, dan membuat kesimpulan. Dengan metode seperti ini diharapkan siswa
memiliki kebiasaan untuk membuat kesimpulan berdasarkan data-data yang sesuai dari
hasil pengamatan dan interferensi. Selanjutnya diharapkan bisa memberikan efek kebiasaan
jika menerima informasi mereka tidak langsung percaya tetapi dibuktikan melalui
langkah-langkah metode ilmiah tersebut.
3. Membentuk
group media sosial atau jejaring sosial dengan melibatkan guru dan siswa.
Melalui group ini guru bisa memantau, memberikan bimbingan, dan arahan kepada siswa sehingga terbiasa mendapatkan
informasi yang valid. Berdasarkan pengalaman, group semacam ini sangat berguna
terutama setelah siswa menyelesaikan studi di madrasah. Biasanya ada kesimpang
siuran informasi tentang pengambilan ijazah dan dokumen lain. Dengan adanya
group ini, siswa yang telah purna masih bisa bekomunikasi dengan pihak sekolah
melalui guru dalam group tesebut.
Melalui beberapa hal tersebut, guru
sebagai pendidik diharapkan bisa menjadi pioner dalam gerakan anti hoax yang
berimbas pada peserta didiknya. Peserta didik inilah nantinya yang akan
berkembang menjadi masyarakat yang memiliki cenderung anti hoax dan anti
penyebar hoax karena sejak dini sudah diajari dan dibiasakan bagaimana cara
untuk memperoleh informasi yang sahih.
Kesimpulannya, perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi adalah sebuah keniscayaan dengan sisi untung
dan ruginya. Sebagai pendidik, seorang guru harus bisa berperan mengarahkan
anak didik “jaman now” ini tentang
bagaimana cara memperoleh informasi yang benar dan tidak terjebak pada hoax. Kunci
utama menghadapi informasi hoax adalah “tabayyun”
atau klarifikasi informasi tersebut melalui sumber-sumber terpercaya dan
melalui langkah-langkah ilmiah. Akhirnya masyarakat anti hoax akan terbentuk
jika semua anggota masyarakat memiliki komitmen untuk selalu mengklarifikasi
informasi yang diterima dan semua itu bisa diawali dari bangku sekolah.